MINU PATUT DIBANGGAKAN

Sudah tidak jamannya lagi memosisikan madrasah atau pesantren sebagai sekolah kelas dua seperti jaman Orde Baru lalu. Apalagi di kawasan Waru, Sidoarjo. Karena kebanyakan madrasah di daerah ini telah terakreditasi A. Lihat saja profil MINU Ngingas berikut:

Sesuai dengan namanya, MINU Ngingas, sekolah ini berada di Desa Ngingas Kecamatan Waru Kabupaten Sidoarjo. Gedungnya cukup megah dengan dua Iantai didominasi warna green ice. Sekolah ini didirikan tahun 1964 silam.

Entah sudah berapa jumlah alumninya saat ini. Pada tanggal 4 Pebruari 2006 rehab gedung baru MINU Ngingas ditandatangani oleh Menteri PDT Saifullah Yusuf dan Ketua PBNU Dr KH Said Aqiel Sirodj, MA, didampingi Ketua Yayasan H Masnuh, yang juga orang dekat Gus Dur kala itu. Gedung sekolah ini memang berdekatan dengan rumah H Masnuh, hanya dipisah oleh empat rumah penduduk.

Sampai saat ini MINU Ngingas memiliki 12 ruang belajar, 598 murid dan 34 guru yang 31 di antaranya telah berijazah S1. Karena banyaknya jumlah murid dan keterbatasan ruang belajar itulah yang menjadikan sekolah ini memasukkan muridnya pagi dan siang hari.

“Terpaksa. Karena ruangan masih belum bisa menampung seluruh siswa,” kata Imam Turmudi, SAg, Kepala Sekolah MINU Ngingas ketika ditemui di ruang kerjanya.

Lelaki asal Malang itu tampak percaya din memimpin madrasah yang telah terakreditasi A sejak tahun 2008 itu. Yah, pantas saja, karena MINU Ngingas memang layak dibanggakan.

Selain telah terakreditasi A, sekolah ini juga memiliki website sendiri di www.minungingas.com. Para guru yang membawa laptop pun bisa bebas menggunakannya untuk internetan karena areal sekolah juga telah dilengkapi dengan hotspot WIFI.

Di sisi lain, madrasah ini juga telah memiliki segala infrastruktur dasar yang diperlukan dalam pendidikan, semisal perpustakaan, UKS serta laboratorium Bahasa lnggris dan komputer.

Disamping itu MINU Ngingas juga menyediakan kegiatan ekstra kurikuler sebagai penunjang kegiatan belajar para murid. Di antaranya komputer, Bahasa Inggris, seni tari, Pramuka dan pembinaan siswa untuk olimpiade.

Untuk materi yang terakhir dilakukan seminggu tiga kali. Tidak heran kalau sekolah ini banyak menelorkan alumni yang bisa diandalkan.

“70 sampai 80 persen lulusan sini masuk sekolah lanjutan negeri dan sekolah-sekolah favorit,” kata Imam Turmudi dengan nada bangga.

“Tidak hanya masuk. Kebanyakan mereka malah berprestasi di sekolah-sekolah tersebut, rata-rata masuk lima besar,” lanjut dosen FE Unsuri yang kini menempuh program beasiswa pascasarjana di lAIN SunanAmpel tersebut.

Menutur Turmudi, selama empat tahun terakhir, MINU Ngingas telah memiliki banyak catatan keberhasilan di bidang akademik. Setiap tahun siswanya selalu mencatat nilai NEM tertinggi antar MI se-Kecamatan Waru. Ketika Diknas masih mengumumkan dengan menggabung Ml dan SD-SDN, biasanya MINU Ngingas menempati urutan kedua.

Di bidang non akademik sekolah ini juga menunjukkan banyak keberhasilan. Di tahun 2003 misalnya, Ocha, salah seorang siswa sekolah ini menjuarai lomba matematika tingkat nasional. Tahun 2007 lalu Desy Nur Fitriyah, alumni sekolah itu dikirim ke Hongaria, mewakili Indonesia untuk lomba catur putri anak-anak.

Tahun lalu, madrasah ini juga banyak mendapatkan juara di tingkat regional. Di antaranya juara I volley putra, juara I tenis meja tunggal putri, juara I tenis meja tunggal putra, juara I tenis meja ganda putra, juara I pertama MTQ, juara II bulu tangkis putri. Dan juara III futsal putra. Seluruhnya tingkat kabupaten.

Sedangkan tahun ini MINU Ngingas juga telah menorehkan beberapa prestasi di tingkat kabupaten. Di antaranya juara III pidato Bahasa Inggris, juara IV lomba IPA dan juara VI matematika.

Jer Basuki Mawa Bea

Berapa biaya sekolah di MINU Ngingas setiap bulan?

Turmudi tidak menampik jika biaya di sekolah yang dipimpinnya tergolong mahal untuk ukuran sekolah dasar SPP saja Rp 60 ribu per bulan. Ditambah biaya ekstra kurikuler dan lain-lain sekitar Rp 20 ribu setiap bulan. Padahal sekolah sudah mendapatkan bantuan dan dana BOS dan yayasan terkait.

Namun memang tidak dapat dipungkiri semboyan masyarakat Jawa Timur, jer basuki mawa bea (kalau ingin mendapatkan pendidikan yang Iayak ya harus berani keluar biaya). Meski berbiaya cukup tinggi, alhamdulillah, minat orang tua untuk menyekolahkan anaknya di sekolah itu tidak juga berkurang. Setiap tahun MINU ini menerima murid rata-rata 100 orang yang dibagi menjadi tiga kelas.

Pihak sekolah mengaku tidak risau dengan dampak negatif biaya tinggi itu akan menurunkan semangat orang tua menyekolahkan anaknya ke sekolah itu. asal diikuti dengan kualitas yang memadai.

“Masyarakat sekarang sudah terdidik dan mengerti, sehingga kualitas menjadi prioritas utama dibanding biaya,” kata Turmudi dengan senyum bangga. Donny

 

Sumber :

Majalah At-Tauhid Media da'wah, Informasi & Silaturrahmi Edisi 04/Juli-Agustus/2011 Hal. 10-11