MINU Ngingas Menjadi Rujukan Studi Banding

Salah satu ukuran tingkat keberhasilan suatu lembaga adalah banyaknya peminat untuk studi banding. Sebab pengakuan kebehasilan datangnya dan orang lain, bukan dari diri sendiri.

Nama Desa Ngingas di Kecamatan Waru Kabupaten Sidoarjo sudah cukup terkenal. Terlebih di kalangan para pengusaha nasional yang berkaitan dengan besi. Yah, di Desa Ngingas itulah tiang listrik, perlengkapan sepeda motor dan mobil, peralatan pertanian dan rumahtangga banyak dibuat. Mulai dan suku cadang mobil dan motor, cangkul, skrop, garuk, sabit, linggis sampai berbagai peralatan lain. Ngingas memang telah cukup lamadikenal sebagai sentra industri pengrajin pande besi di Sidoarjo. Hampir seluruh pengrajin itu adalah orang NU.

Berada di tengah perkampungan pengrajin paride besi itulah MINU Ngingas berdiri sejak 1964 silam. Gedungnya direhab dan diresmikan pada 4 Februari 2006 oleh Menteri PDT Saifullah Yusuf dan Ketua PBNU Dr KH Said Aqiel Sirodj, MA, didampingi

Ketua Yayasan H Masnuh, yang juga orang dekat Gus Dur kala itu. Gedung sekolah inimemang berdekatandengan rumah H Masnuh, hanya dipisah oleh empat rumah penduduk. Bangunan dua lantal dengan 12 ruangbelajar itu kini memiliki 598 murid dan 34 guru, yang 31 di antaranya sudah berijazah S1, berada di tengah kampung, berdekatan dengan balai desa dan masjid. Sekolah yang sudah terakreditasi A sejak 2008 inimemasukkan muridnya pagi dan siang hari.

“Karena ruangan masih belum bisa menampung seluruh siswa, terpaksa sebagian kita masukkan siang hari,” kata Imam Turmudi, S.Ag, Kepala Sekolah MINU Ngingas.

Sampai saat mi MINUNgingas telah memilikiwebsite sendiridiwww.minungingas.com. Para guru yang membawa laptop pun bisa bebas mempergunakannya untuk internetan karena areal sekolah telah dilengkapi hot- spot WIFI. Disamping telah memiliki segala infrastruldur dasar pendidikan yang lain, semisal perpustakaan,UKS, laboratorium Bahasa Inggris dan komputer.

Sekolah ini juga menyediakan kegiatan ekstra kurikuler sebagai penunjang kegiatan belajar para murid. Diantaranya komputer, Bahasa Inggris, seni tari, Pramuka dan pembinaan siswa untuk olimpiade. Untuk materi yang terakhir dilakukan seminggu tiga kali. Tidak heran kalau sekolah inibanyak menelorkan alumni yang bisa diandalkan. “70 sampai 80 persen lulusan sini masuk sekolah lanjutan negeri dan sekolah-sekolah favorit,” kata Imam Turmudi dengan nada bangga. “Tidak hanya masuk. Kebanyakan mereka malah berprestasi di sekolah-sekolah tersebut, rata-rata masuk lima besar,”lanjut dosen FE Unsuri yang kini menempuh program beasiswapascasarjana di lAIN Sunan Ampel tersebut.

Studi Banding

Selama empat tahun terakhir, menurutTurmudi, MINUNgingas telah memiliki banyak catatan keberhasilan di bidang akademik. Setiap tahun siswanya selalu mencatat nilai NEM tertinggi antar MI se-Kecamatan Waru. Ketika Diknas masih mengumumkan dengan menggabungMI dan SD-SDN, biasanya MINU Ngingas menempati urutan kedua.

Di bidang non akademik Sekolah inijuga menunjukkan banyak keberhasilan. Di tahun 2000 misalnya, Ocah Destalia, salah seorang siswa sekolah inimenjuarai lomba matematika tingkat nasional mewakili Jawa Timur. Tahun 2007 lalu Desy Nur Fitriyah, alumni sekolah itu dikirim ke Hongaria, mewakili Indonesia untuk lomba catur putri anak-anak. Tahun lalu, madrasah inijuga banyak mendapatkan juara di tingkat regional. Di antaranya juara I volley putra, juara I tenis meja tunggal putri, juara I tenis meja tunggal putra, juara I tenis meja ganda putra, juara I pertama MTQ, juara II bulu tangkis putri, dan juara III futsal putra. Seluruhnya tingkat kabupaten. Sedangkan tahun iniMINU Ngingas juga telah menorehkan beberapa prestasi di tingkat kabupaten. Di antaranya juara III pidato Bahasa Inggris, juara IV lomba IPA dan juana VI matematika.

Oleh karena sering mendapatkan keberhasilan itulah akhirnya MINU inibanyak mendapatkan kunjungan darisesama madrasah dan sekolah dasar di daerah lain. Pada 2009 misalnya, madrasah inimendapatkan kunjungan studi banding dariguru- guru MI se-Kabupaten Jombang. Tahun 2010 dikunjungi guru-guru SD dan MI se-Kabupaten Nganjuk, dalam misi yang sama. Tahun 2010 kunjungan serupa dariguru- guru MI dan SD se-Kabupaten Malang, dan yang akan datang lagi dan Banyuwangi. Beberapa kali sekolah ini juga menjadi ohyek penelitian mahasiswa lAIN, Unesa dan Unsuri. Studi banding dan penelitian itu biasanya berkisar pada proses pendidikan yang dilakukan, mulai dan administrasi sekolah, manajemen, KBM, pengembangan kurikulum dan perencanaan program sekolah. Sekolah yang memiliki progam unggulan Matematika, IPA, Bahasa Inggris, komputer dan Bahasa Arab itu mengaku selalu siap dikunjungi bila ada pemberitahuan terlebih dahulu.

Turmudi tidak menampik jikabiaya di sekolah yang dipimpinnya tengolong mahal untuk ukuran sekolah dasar. SPP saja Rp 60nibu per bulan. Ditambah biaya ekstra kurikuler dan lain-lain sekitarRp 20 ribu setiap bulan. Padahal sekolah sudah mendapatkan bantuan dan dana BOS dariyayasan terkait. Namun memang tidak dapat dipungkiri semboyan masyarakat Jawa Timur, jer basuki mawa beya, siapa yang ingin sukses harus beraniberkorban. Ingin mendapatkan pendidikan yang bermutu, harus berani membayar Iebih.

Meski berbiayacukup tinggi, alhamdulillah, minat orang tua untuk menyekolahkan anaknya di sekolah ini tidak juga berkurang. Setiap tahun MINU Ngingas menerima murid rata-rata 100 orang yang dibagi menjadi tiga kelas. Pihak sekolah mengaku tidak risau dengan dampak negatif biaya tinggi yang dimungkinkan akan menurunkansemangat orang tua menyekolahkan anaknya ke sekolah itu. Prinsip yang dipegang sekolah, asal diikuti dengan kualitas yang memadai, tidak akan pernah ada masalah dengan pembayaran.Rupanya dugaan itu tidak meleset.

“Masyarakat sekarang sudah terdidik, sehingga kualitas menjadi prioritas utama dibanding biaya,” kata mantan aktivis PMII Surabaya dan Sidoarjo tersebut. Dipastikan, orang tua tidak akan mundur daribiaya pendidikan yang mahal karena tingginya kesadaran akan pentingnya pendidikan anak sebagai bekal menyongsong masa depan mereka. Pendidikan adalah investasi untuk anak di masa depan. “Tentu saja mereka ingin pendidikan yang berkualitas,” lanjut lelaki asal Malang itu dengan senyum bangga.

M Subhan,
Majalah AULA, Maret 2011 (Halaman 57-60)